8.5 C
New York
Rabu, April 1, 2020
Beranda Sejarah Sejarah Pahlawan Indonesia RA Kartini

Sejarah Pahlawan Indonesia RA Kartini

RA Kartini adalah seorang pahlawan yang memiliki tekad dan semangat untuk meningkatkan harkat dan derajat seorang wanita. Berkat RA Kartini, seorang wanita yang pada jaman dahulu hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga yang tidak perlu pendidikan, berkat RA Kartini seorang perempuan diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan tinggi.

Berkat upaya dari RA Kartini tersebut, muncul pula istilah yang disebut dengan emansipasi wanita. Zaman dahulu dimana seorang wanita hanya bisa menerima keadaan yang ada, baik dari orang tua maupun dari suaminya yang kurang baik. Namun dengan adanya RA Kartini, sikap yang kurang baik kepada wanita pada saat itu kemudian berangsur-angsur tidak dibiarkan saja. Sehingga bisa dikatakan sejak saat itulah harkat wanita pribumi mulai menjadi lebih baik.

Asal Usul RA Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir di daerah Jepara pada tanggal 21 April 1879.  RA Kartini adalah seorang keturunan kaum bangsawan jawa atau biasa dikenal dengan sebutan priyayi. Kartini adalah seorang putri dari Raden Mas Ario Sosroningrat yang merupakan seorang patih dan menjadi Bupati Jepara. Kartini adalah putri pertama dari  Bupati Jepara dengan Nyai Ngasirah yang bukan merupakan istri utama bupati.

Berdasarkan silsilahnya, RA Kartini adalah merupakan keturunan dari para priyayi Kerajaan Majapahit. Berdasarkan data histori, diketahui bahwa nenek moyang dari ayahnya Sosroningrat merupakan ornag-orang penting yang menjadi petinggi kerajaan di daerah Pangreh Praja. Sehingga bisa disimpulkan bahwa sikap berani dari RA Kartini memang merupakan darah ksatria yang memang diturunkan oleh nenek moyangnya yang pada jaman itu emang dikenal memiliki keberanian dan kebijaksanaan.

Pendidikan RA Kartini

Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara, dan Kartini adalah anak perempuan tertua dari 11 saudaranya. Kartini sebenarnya telah mengenyam pendidikan barat di sekolah yang diberikan nama ELS (Europese Lagere School). Hal itu dimulai sejak pada jaman kakek Kartini Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang memang memberikan pendidikan barat kepada anaknya. Dan hal itu diteruskan oleh Bupati Sosroningrat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Dengan latar pendidikan itu, Kartini bisa menggunakan bahasa Belanda dalam kehidupan kesehariannya. Hal itu membuat Kartini memiliki wawasan yang luas karena beliau memang hobi membaca. Dengan pengetahuan itulah dia memiliki kesimpulan bahwa seorang wanita tidaklah harus di rumah saja dan berdiam diri. Tetapi wanita juga boleh untuk belajar dan mengenyam pendidikan yang tinggi.

Namun pada saat dia berusia 12 tahun, Kartini harus berhenti dari sekolahnya dan berada di rumah. Hal itu dikarenakan pada tradisi saat itu dimana seorang wanita yang berusia 12 tahun sudah boleh dipingit untuk dinikahkan dengan bangsawan yang lain.

Dengan pendidikan yang tinggi itulah, RA Kartini memiliki teman yang berasal dari Belanda. Dia berkirim surat kepada temannya yang bernama Rosa Abendanon. Kartini sangat kagum terhadap pola piker wanita-wanita eropa yang cemerlang. Sehingga saat itu Kartini memiliki banyak sekali keinginan untuk memajukan pola piker wanita pribumi dengan pendidikan agar status sosial wanita bisa lebih baik.

Akhir Hayat Kartini

Raden Ajeng Kartini dijodohkan oleh orang tuanya dengan bupati dari Rembang Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah memiliki 3 orang istri di tanggal 12 November 1903. Namun karena tekadnya untuk meningkatkan harkat para wanita, Kartini meminta kepada suaminya untuk mendirikan sekolah khusus wanita di Rembang.

Meskipun sudah berhasil mendirikan sekolah, ternyata Kartini wafat lebih cepat sebelum cita-citanya tercapai. Kartini wafat beberapa hari setelah melahirkan putri pertamanya tepat pada tanggal 17 September 1904 di Rembang. RA Kartini dimakamkan di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.

Buku “Habislah Gelap Terbitlah Terang”

Setelah RA Kartini wafat, JH. Abendanon mengumpulkan beberapa surat yang dikirimkan oleh RA Kartini kepada teman-teman korespondensinya yang ada di Eropa. Abendanon yang menjabat sebagai menteri kebudayaan Hindia Belanda kemudian membukukan surat-surat RA Kartini dengan judul Door Duisternis tot Licht yang bisa diartikan sebagai kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Berdasarkan semangat RA Kartini itulah, WR Soepratman juga membuat sebuah lagu dengan judul Ibu Kita Kartini. Lagu tersebut menjadi sebuah penggambaran dimana Kartini pada waktu itu ibarat sebagai wanita pribumi yang ingin merdeka, merdeka dalam mengenyam pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments