8.5 C
New York
Senin, Juli 13, 2020
Beranda Religi Hukum Perilaku Rasialisme, Bagaimana Hukumnya dalam Syariat? |Republika Online

Perilaku Rasialisme, Bagaimana Hukumnya dalam Syariat? |Republika Online

Hukum dari Allah itu adil, proporsional, dan tidak mengenal ‘vasted interesed’

REPUBLIKA.CO.ID, Isu rasisme berkembang di Amerika Serikat pasca terbunuhnya seorang pria kulit hitam Afrika-Amerika, George Floyd oleh aparat kepolisian Minneapolis. Kematian Floyd sempat memantik protes warga Amerika khususnya warga kulit hitam yang menilai adanya diskriminasi hukum. Lalu bagaimana Islam membahas rasisme dan diskriminasi hukum karena perbedaan ras? 

Ketua Majelis Tabligh Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ustaz Fathurrahman Kamal menjelaskan diantara manifestasi dari karakter Islam Rabbani ialah memastikan bahwa hukum yang bersumber dari Allah itu adil, proporsional, dan tidak mengenal vasted interest atau kepentingan kuat baik kelompok, ras, bahkan agama. 

“Sebab Allah yang menurunkan hukum syariat ini bebas dari segala kepentingan apapun, selain mewujudkan maslahat dan menjauhkan mudarat bagi umat manusia secara universal. Inilah asas bagi seluruh risalah samawiyah dan kenabian,” tutur ustaz Fathurrahman kepada Republika. 

Dalam Surat Al Hadid ayat 25 dapat ditemukan keterangan tentang diutusnya rasul dengan kitab yang diberikan Allah agar manusia dapat melaksanakan keadilan.  Menurut Ustaz Fathurrahman itu menjadi pijakan Rasulullah dalam mengelola kebhinekaan masyarakat Madinah yang kosmopolitan. 

“Dalam konteks kemanusiaan, Rasulullah tidak membeda-bedakan muslim dan non muslim. Semua menjunjung tinggi common flatform yang telah disepakati. Lihat klausal-klausal yang tertera pada piagam Madinah. Keadilan dijunjung tinggi. Hidup egaliter menjadi nuansa keseharian. Sehingga dapat dinyatakan bahwa pernak-pernik peradaban kosmopolitan dan universal ini hanya dapat dicapai oleh Islam, mengungguli peradaban-peradaban besar lainnya di dunia,” jelas dia. 

Selain itu, Rasulullah  telah menegaskan bahwa kehancuran umat terdahulu karena mempermainkan keadilan. Padahal menurut ustadz Fathurrahman  keadilan meletakan manusia sejajar tanpa memandang status dan jabatan. 

Sebagaimana sikap yang ditunjukkan Rasul ketika menghadapi kasus pencurian yang dilakukan seorang wanita bangsawan Arab dari suku Makhzumiyah. Ustaz Fathurrahman menjelaskan kala itu masyarakat Quraisy bersepakat agar Usamah bin Zaid – yang memiliki kedekatan dengan Rasul- melobi Rasul untuk tidak menjatuhkan hukuman hudud kepada perempuan terhormat dari suku Makhzumiyah itu.

Secara sosiologis dalam pandangan masyarakat Quraisy kala itu tidak etis menghukum keluarga bangsawan. Namun demikian Rasulullah memberi peringatan terhadap Usamah yang meminta dispensasi atas hukuman yang telah ditetapkan Allah. 

Kisah yang dapat ditemukan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim itu juga menjelaskan bahwa Rasulullah dalam pidatonya menerangkan tentang celakanya umat terdahulu karena tidak menjatuhkan hukuman pada bangsawan yang mencuri, sementara bila masyarakat biasa yang mencuri hukuman pun dijatuhkan. Rasul juga menegaskan bahwa bila putrinya yakni Fatimah binti Muhammad mencuri maka Rasullulah siap untuk memotong tangan putrinya sendiri. 

Sementara itu menurut Ustaz Fathurrahman dalam berinteraksi dan memperlakukan non Muslim nabi mengajarkan untuk menjaga kehormatan non Muslim. Rasul menegaskan siapa yang mendzalimi mu’ahad (non Muslim yang terikat perjanjian konstitusional), merendahkan kehormatannya membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan darinya, maka akan berhadapan dengan Rasulullah pada hari kiamat. 

Ustaz Fathurrahman menjelaskan dalam pandangan Islam manusia secara universal dari sudut pandang penciptaannya memiliki kemuliaan apapun ras, warna kulit, suku, bangsa termasuk agamanya. Maka dari itu menurutnya  hak kemuliaan sebagai manusia ciptaan Allah wajib untuk dilindungi dan dipelihara, kecuali dengan pelanggaran yang telah ditentukan dalam syariat Islam.

Menurut ustaz Fathurrahman dalam Islam penciptaan manusia dari satu keturunan, berbangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal  potensi  masing-masing dan memanfaatkan keragaman tersebut untuk kemaslahatan hidup. 

“Bahwa Alquran merestui pengelompokan berdasarkan keturunan, selama  tidak   menimbulkan perpecahan, bahkan mendukungnya demi mencapai kemaslahatan bersama. Yang terpenting lagi, keragaman suku bangsa dan ras manusia tidak menjadi tolak ukur kemuliaan seorang manusia,” tutur dia.

Sebagaimana ditegaskan dalam hadits riwayat Ahmad yang menjelaskan bahwa  tidak ada keutamaan bagi orang Arab di atas orang Ajam (non Arab), tidak ada keutamaan bagi orang Ajam di atas orang Arab, juga tidak ada kemuliaan bagi yang berkulit merah di atas yang berkulit hitam atau bagi yang berkulit hitam di atas yang berkulit merah kecuali dengan sebab ketakwaan.

 



Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Juara GP Styria, Hamilton semakin dekati rekor Schumacher

Jakarta (ANTARA) - Kemenangan Lewis Hamilton di Grand Prix Styria, Austria, Minggu, membuat sang pebalap Mercedes itu semakin mendekati sejumlah capaian rekor sepanjang masa...

Renault ajukan protes resmi terkait legalitas mobil Racing Point

Jakarta (ANTARA) - Renault mengajukan protes resmi ke FIA mempertanyakan aspek legalitas mobil balap tim Racing Point setelah performa kuat tim rival itu di...

Recent Comments